Perkembangan Pendidikan Di Indonesia Kala Pandemi

Pendidikan Di Indonesia Kala Pandemi telah mengimbuhkan gambaran atas kelangsungan dunia pendidikan di jaman depan melalui pertolongan teknologi. Namun, teknologi selamanya tidak mampu menukar peran guru, dosen, dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar karena edukasi bukan cuma sekedar beroleh pengetahuan tetapi termasuk perihal nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Situasi pandemi ini jadi tantangan tersendiri bagi sistim pendidikan di indonesia tiap tiap individu dalam menggunakan teknologi untuk mengembangkan dunia pendidikan. Demikian dikatakan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam, pada acara Medan International Conference on Energy plus Sustainabilit.

“Saat ini pandemi jadi tantangan dalam mengembangkan kreativitas pada pemakaian teknologi, bukan cuma transmisi pengetahuan, tetapi termasuk bagaimana menegaskan pembelajaran selamanya tersampaikan dengan baik,” tutur Nizam.

Pada selagi yang bersamaan, lanjut Nizam, tantangan ini termasuk jadi kesempatan bagi semua perihal bagaimana pemakaian teknologi mampu mendukung mempunyai mahasiswa dan pelajar jadi kompeten untuk abad ke-21. Keterampilan yang paling mutlak pada abad ke-21 ialah self-directed learning atau pembelajar independen sebagai outcome berasal dari edukasi.

Sistem pendidikan online pun tidak mudah. Di samping disiplin pribadi untuk belajar secara mandiri, tersedia layanan dan sumber energi yang wajib disediakan. Saya bersyukur masih mampu memfasilitasi anak kami untuk pendidikan jarak jauh, tetapi saya mendengar keluhan banyak orangtua murid dan termasuk tenaga pendidik yang kesulitan, baik dalam menyediakan perangkat belajar seperti ponsel dan maupun pulsa untuk koneksi internet.

Pantauan Pendidikan Di Indonesia Kala Pandemi

Dengan kata lain, sistem agen sbobet terpercaya online ini berpotensi membuat kesenjangan sosial ekonomi yang selama ini terjadi, menjadi makin melebar saat pandemi. Kemenaker (20/4) mencatat sudah lebih dari 2 juta buruh dan pekerja formal-informal yang dirumahkan atau diPHK. Dengan kondisi seperti ini, banyak orangtua kesulitan menyediakan kesempatan pendidikan yang optimal bagi anak-anak mereka.

Dalam situasi yang lebih buruk, orangtua malah bisa berhadapan pada pilihan dilematis: memberi makan keluarga atau membiayai pendidikan anak. Ini berpotensi membuat angka putus sekolah meningkat. Sejak kebijakan belajar dari rumah diterapkan secara nasional mulai tanggal 16 Maret 2020, muncul indikasi naiknya angka putus sekolah di berbagai tempat. Mulai dari Papua, Maluku Utara, hingga Jakarta. Ini daerah-daerah yang tergolong zona merah dalam penyebaran wabah. Angka putus sekolah dari kawasan perdesaan juga diperkirakan akan naik.